[Intro]
Sunyi menghembus lembut di pelupuk senja
Jejak kita tertinggal di pelabuhan hati
[cinta] terikat doa dalam setiap napas
Biarkan kenangan jadi lentera di malam sunyi
[Verse 1]
Yudi menatap jauh ke arah gunung berapi kata-kata,
Diva menahan air mata yang ingin terbang bersama angin,
Kau janji pada keluarga, pada adat yang membentuk kita,
Namun jarak menulis takdir, menukikkan rindu jadi beban.
[Pre-Chorus]
Dito karameh, katujuang hati kami; adat menuntut pisah,
Tapi cinta tetap bernafas di dalam dada.
[Chorus]
Cintaku padamu bagai kain lilin di ujung nyala,
Hangat namun rapuh, terhapus oleh waktu yang cenuskan tawa.
Kita berikrar di bawah bintang-bintang baja adat,
Menunggu pagi yang tak kunjung tiba untuk bersatu kembali.
[Verse 2]
Diva berbisik pada rumah gadang, doa keluarga bersuara lembut,
Yudi menjawab dengan janji yang terukir pada daun salam,
Memori kita tinggal sebagai puisi di antara sabak dan puisi,
Menanti saat pertemuan yang terjaga oleh harapan.
[Pre-Chorus]
Kita terputus oleh batas negara nurani; tradisi menahan langkah,
Tapi rindu merangkul pada kaca jendela hati.
[Chorus]
Cintaku padamu bagai kain lilin di ujung nyala,
Hangat namun rapuh, terhapus oleh waktu yang cenuskan tawa.
Kita berikrar di bawah bintang-bintang baja adat,
Menunggu pagi yang tak kunjung tiba untuk bersatu kembali.
[Bridge]
Kau dan aku; keluarga, tanah, janji, dan air mata yang terasa manis,
Kita menari di antara bayangan perpisahan dan doa pembebasan.
[Chorus]
Cintaku padamu bagai kain lilin di ujung nyala,
Hangat namun rapuh, terhapus oleh waktu yang cenuskan tawa.
Kita berikrar di bawah bintang-bintang baja adat,
Menunggu pagi yang tak kunjung tiba untuk bersatu kembali.
[Outro]
Saat kita berpisah, biar kenangan menuntun langkah kita pulang,
Ke arah masa depan yang terjaga dalam harapan dan doa.