[INTRO — bisik, hampir tanpa musik]
Di tanah yang katanya kaya…
Mengapa masih banyak yang bertanya,
“Besok… makan apa?”
[VERSE 1 — pelan]
Di bawah langit yang mulai kelabu,
Asap membungkus wajah negeriku.
Hutan terbakar, tanah mengering,
Dan doa petani kembali hening.
Di kota suara-suara meninggi,
Tentang hidup yang semakin sulit dijalani.
Yang kecil menghitung sisa rupiah,
Sementara janji terus berganti wajah.
[PRE-CHORUS — mulai naik]
Katanya kita tumbuh…
Katanya kita maju…
Tapi mengapa masih ada
Yang merasa tak dianggap itu?
[CHORUS — MELEDAK, MERINDING]
Oh Indonesiaku…
Apakah kau masih mendengar?
Jerit dari jalan-jalan,
Tangis dari rumah-rumah kecil yang sabar.
Oh Indonesiaku…
Kami bukan ingin menghancurkanmu,
Kami hanya ingin melihat
Keadilan tumbuh di tanah yang kami cintai.
[BRIDGE — musik turun, vokal emosional]
Jangan salahkan rakyat
Bila mereka mulai bertanya…
Jangan bungkam suara
Yang hanya ingin didengar.
Sebab negeri bukan sekadar gedung,
Bukan sekadar angka pertumbuhan.
Negeri adalah manusia
Yang menggantungkan hidup
Pada satu harapan.
[FINAL CHORUS — lebih besar]
Oh Indonesiaku…
Kami masih di sini…
Walau luka belum berhenti,
Kami belum berhenti mencintai.
Biar sejarah yang mencatat,
Siapa yang menjaga, siapa yang melupakan.
Karena Indonesia bukan milik mereka…
Indonesia adalah rumah kita semua.
[OUTRO — bisik]
Kalau suatu hari kami diam…
Bukan berarti kami tak peduli.
Mungkin kami hanya lelah…
Menunggu negeri ini
Mendengar suara kami.