[Intro]
Bawah lampu kota yang meredup, aku mengingat namamu di dinding restoran tua.
Langit malam berbisik, mengubah rindu jadi nyanyian pelan.
[Verse 1]
Kau jauh di sana, bayangan pertama yang ku panggil ketika sunyi mendekap.
Aku mendengar kampung halaman lewat desis radio yang terjepit di kotak kaca.
Suara bass mendorong aku bangkit, menelan malu, menata kata yang tercecer.
[Pre-Chorus]
Aku menimbang udara, menapis air mata jadi bait-bait kecil.
Bumi itu tetap menunggu, menjeratku dengan pelukan kenangan.
[Chorus]
Ku temui vozikku di sela sunyi, menyalakan lampu pada malam yang pekat.
Kau adalah pulau di kerinduan, tempat aku pertama kali bernapas dengan tegas.
Aku akan tetap bernyanyi, meski gelap menekan dada, aku akan bersuara.
[Verse 2]
Di pasar tua, aroma roti dan debu turun ke telapak kaki kita yang rapuh.
Gema tawa anak-anak di gang sempit kembali seperti dulu, mengikatkan jiwa yang tercerai.
Aku menulis pada dinding-dinding kecil, pesan untuk masa depan yang menunggu.
[Pre-Chorus]
Langkah kuarungi malam dengan nada yang menuntun pulang ke hati.
Kalimat-kalimat hilang perlahan, lalu kembali dalam pola yang berbeda.
[Chorus]
Ku temui vozikku di sela sunyi, menyalakan lampu pada malam yang pekat.
Kau adalah pulau di kerinduan, tempat aku pertama kali bernapas dengan tegas.
Aku akan tetap bernyanyi, meski gelap menekan dada, aku akan bersuara.
[Bridge]
Dalam sepi kutemukan rima, dalam hening kutemukan arah.
Langkahku menapak dengan harap, aku tidak lagi takut suara sendiri.
[Chorus]
Ku temui vozikku di sela sunyi, menyalakan lampu pada malam yang pekat.
Kau adalah pulau di kerinduan, tempat aku pertama kali bernapas dengan tegas.
Aku akan tetap bernyanyi, meski gelap menekan dada, aku akan bersuara.
[Outro]
Di akhir jalan, aku menatap langit dan menyimpan nyanyianku sebagai janji.
Bayang-bayang menghilang, aku hadir dengan suara yang dulu kau kenal.