[Intro]
Di dalam kamar sunyi, dinding menahan air mata
Aku berjalan pelan, menimbang semua kata
[Verse 1]
Aku suami yang tulus, tapi tanganku nggak lagi menggenggam hargamu
Kau menatap layar, aku jadi bayangan di balik lampu neon
Kamu bilang aku biasa, padahal hatiku retak pelan-pelan
Namun kupeluk diamku, biar air mata jadi tinta surat cinta yang terlupakan
[Pre-Chorus]
Kalau bisa kuputar waktu, kuterbangkan duka ini ke langit paling gelap
Berharap kau lihat aku, bukan sekadar bayang-bayang di meja makan
[Chorus]
Kenapa kasih yang dulu, jadi hilang di antara kata-kata?
Aku di sini menunggu pelukan yang tak pernah hadir
Tak adil, aku terasa hampa, hidupku terasa rapuh
Jika kau menangis, biarkan aku jadi tempat kembali
[Verse 2]
Kubawa luka di dada, setiap senyum yang kau bagikan terasa asing
Aku berusaha jadi kuat, meski rumah terasa seperti puing mobil tua
Kau bilang hidup kita nyaman, tapi diamku lebih berat dari logam
Ku heningkan diri, menahan tawa yang tercekik, demi kita yang nyaris runtuh
[Pre-Chorus]
Kalau bisa kuputar waktu, kuterbangkan duka ini ke langit paling gelap
Berharap kau lihat aku, bukan sekadar bayang-bayang di meja makan
[Chorus]
Kenapa kasih yang dulu, jadi hilang di antara kata-kata?
Aku di sini menunggu pelukan yang tak pernah hadir
Tak adil, aku terasa hampa, hidupku terasa rapuh
Jika kau menangis, biarkan aku jadi tempat kembali
[Bridge]
Aku bukan duri yang sengaja menyakitimu, aku manusia yang terluka akibat sunyi
Bila selamanya seperti ini, biarkan luka jadi guru untuk kita berdua
[Chorus]
Kenapa kasih yang dulu, jadi hilang di antara kata-kata?
Aku di sini menunggu pelukan yang tak pernah hadir
Tak adil, aku terasa hampa, hidupku terasa rapuh
Jika kau menangis, biarkan aku jadi tempat kembali
[Outro]
Di ujung malam, aku masih berdiri di ambang pintu
Menanti sapa yang tak kunjung datang, namun aku tetap pulang ke rumah yang berisik dengan sunyi