Verse 1)
Tubuh yang lelah, menyimpan bekas luka yang nyata
Darah pernah mengalir di tanah tempatku mencari
Demi senyum anak istri yang selalu kunanti
Namun malam ini, sunyi terasa begitu mencekam
Saat semua tuntutan dunia membuat daku tenggelam
(Verse 2)
Aku selalu berjuang dengan sepenuh hati ini
Mengetuk pintu langit, memanjat doa setiap hari
Hingga dada ini sesak, dipenuhi tanya pada Yang Kuasa
Apakah Engkau mendengar suaraku yang parau?
Atau kah aku hanya berjalan dalam igauan yang kacau?
(Chorus)
Aku mampu berpura-pura kuat di tengah keramaian
Tersenyum tegap, menjadi sandaran di setiap keadaan
Namun aku hancur seancur-ancurnya saat sendirian
Menangis dalam sepi, menatap gelapnya masa depan
Dunia terasa tak peduli
Menahan sisa napas yang kian hari kian terbebani
(Bridge)
Ingin kuruntuhkan tembok rapuh di dalam dada
Ingin kuceritakan pada dia yang kucinta
Namun takutku hanya akan menambah luka yang baru
Takut jika dia merasa menjadi beban di pundakku
Maka kusimpan sendiri badai yang sedang mengamuk
Di sudut kamar ini, tubuhku perlahan menekuk
(Chorus)
Aku mampu berpura-pura kuat di tengah keramaian
Tersenyum tegap, menjadi sandaran di setiap keadaan
Namun aku hancur seancur-ancurnya saat sendirian
Menangis dalam sepi, menatap gelapnya masa depan
Dunia terasa tak peduli
Menahan sisa napas yang kian hari kian terbebani
(Outro)
Malam ini... biarlah air mata ini menetes habis
Melepaskan lelahnya jiwa yang menangis
Esok hari adalah misteri yang belum nyata
Namun malam ini, aku memilih untuk tetap bernapas saja...
Demi mereka... aku bertahan... satu malam lagi