[Intro]
Langit kota menua, kantong kering bergetar
[Verse 1]
Di meja makan, kami tulis angka setiap bulan
Rupiah bertambah, mimpi jadi beras tipis tipis
Anak-anak bertanya, “apa artinya lebih mahal sekarang?”
Kami jawab diam, hati tidak sanggup berdiri lebih lama
[Pre-Chorus]
Keringat di dahi, beban tertumpuk satu persatu
Kebijakan di atas kertas, kami di bawahnya menyapu abu
[Chorus]
Pajak naik, rakyat tercekik, kami tetap berjalan
Beban besar di pundak kami, tak terlihat di rapat-rapat tinggi
Kami ingin suara yang adil, bukan janji yang hilang begitu saja
Empati untuk warga, agar tidak hilang satu persatu
[Verse 2]
Tanda tanya di mata suami istri yang berjuang membayar tagihan
Keluarga kecil bertahan, meski dompet sering bercekak
Usaha lemah, harga juga naik, kami berteduh di balik layar senyum
Di balik angka statistik, ada rumah yang rapuh, doa yang tertatih
[Pre-Chorus]
Keringat di dahi, beban tertumpuk satu persatu
Kebijakan di atas kertas, kami di bawahnya menyapu abu
[Chorus]
Pajak naik, rakyat tercekik, kami tetap berjalan
Beban besar di pundak kami, tak terlihat di rapat-rapat tinggi
Kami ingin suara yang adil, bukan janji yang hilang begitu saja
Empati untuk warga, agar tidak hilang satu persatu
[Bridge]
Tak ada pistol, hanya laporan, kau lihat kami di antrean panjang
Menyusun mimpi dalam secarik kertas, berharap perubahan yang nyata
[Chorus]
Pajak naik, rakyat tercekik, kami tetap berjalan
Beban besar di pundak kami, tak terlihat di rapat-rapat tinggi
Kami ingin suara yang adil, bukan janji yang hilang begitu saja
Empati untuk warga, agar tidak hilang satu persatu
[Outro]
Kami menunggu dibangun ulang, tanpa dentuman rasa takut
Keadilan sosial bukan hiasan, tapi pijakan untuk anak-anak kita