[Intro]
Langit senyap membungkus hati yang menahan arus tanya
Kedip mata ini menunggu jawab dari kedalaman doa
[Verse 1]
Aku duduk di ujung malam, keriduan berlayar di dada
Pertanyaan-pertanyaan kecil menggulung seperti debu di kaca
Hei Sang Pencipta, mengapa suara hatiku bergetar begitu lemah
Ketika logika menatap langit, aku masih melihat luka sunyi
[Pre-Chorus]
Tak ada kata yang cukup, hanya desah napas yang menggenang
Aku menakar iman dengan ukuran ragu yang panjang
[Chorus]
Ya, aku bertanya tanpa henti, di tirai langit yang tipis dan dingin
KepadaMu aku menaruh keraguan, tanpa niat untuk menipu hati sendiri
Biarlah getir ini menjadi jalur menuju terang yang kau janjikan
Walau masih pekat dalam dada, aku tetap percaya pada garis-Nya
[Verse 2]
Dialog batinku berbisik, antara takut dan harap yang halus
Aku menimbang logika dengan empati yang tak pernah padam
Bidadari doa menyentuh bibir bawah, mengubah tangis jadi lirik pelan
Kutahu rasionalitas keraguanku bukan penyerang, melainkan pelindung
[Pre-Chorus]
Kanvas langit menahan sepinya suara, aku menata kembali nyala harap
Aku berjalan dengan langkah yang tidak pasti, namun tidak mundur
[Chorus]
Ya, aku bertanya tanpa henti, di tirai langit yang tipis dan dingin
KepadaMu aku menaruh keraguan, tanpa niat untuk menipu hati sendiri
Biarlah getir ini menjadi jalur menuju terang yang kau janjikan
Walau masih pekat dalam dada, aku tetap percaya pada garis-Nya
[Bridge]
Jika angin membawa jawaban, biarkan lidahku tetap lurus pada jalan-Nya
Jika aku tersesat, biarkan keraguan menjadi kompas lembut di malam sunyi
[Chorus]
Ya, aku bertanya tanpa henti, di tirai langit yang tipis dan dingin
KepadaMu aku menaruh keraguan, tanpa niat untuk menipu hati sendiri
Biarlah getir ini menjadi jalur menuju terang yang kau janjikan
Walau masih pekat dalam dada, aku tetap percaya pada garis-Nya
[Outro]
Sunyi menutup tirai, namun suara hati tidak berhenti bertanya
Ku ingin tetap dekat, meski langkahku penuh keraguan