[Intro]
Di bawah cahaya lampu lorong lama, segugus diam membisikkan namamu.
Keberanian lahir dari segi-segi senyap, menanti detik untuk memilih.
[Verse 1]
Dia datang dalam senyap, bukan untuk mengubah dunia—hanya hati kita bertemu di antara doa dan larangan.
Ayah ibu berbisik pudar di telinga: cinta ini tak bisa kita miliki. Namun jantungku menyalakan obor, menolak untuk padam.
Kau tahu aku lelaki yang berdiri di antara dua jalan: membangun restu keluarga, atau menepati hatiku sendiri.
[Pre-Chorus]
Kamu kata kita kuat, meski langkah bergetar.
Aku merintis jalan, meski bayangan mereka mengintai di balik pintu.
[Chorus]
Tak akan kupinta restu bila itu menumpulkan cinta kita,
Kita berdua akan menahan badai, walau dunia menilai kita salah.
Dalam dada ini, harapan keluarga dan cinta kita saling bertarung, kau dan aku.
Biar konspirasi hati melawan prasangka, kita memilih untuk tetap berdiri.
[Verse 2]
Keluarga menaruh cita; kami menaruh mimpi. Ada air mata di hujung senyuman yang kau beri.
Namun aku menulis kata-kata berani pada langit: aku akan menjaga hatimu, walau harga yang kupinta mahal.
[Pre-Chorus]
Kita berjanji pada janji yang tidak diajar buku sekolah:
Bahwa cinta juga perlambangan keberanian dan pengorbanan.
[Chorus]
Tak akan kupinta restu jika itu menafikan bayi cahaya kita.
Kita berjalan beriringan, musuhnya prasangka, bukan kita.
Dalam dada ini, harapan keluarga dan cinta kita saling bertarung, kau dan aku.
Biar konspirasi hati melawan prasangka, kita memilih untuk tetap berdiri.
[Bridge]
Jika malam menutup jalan, kita ketuk lagi pintu hati dengan doa.
Kalau hari menafsirkan kita sebagai silap, kita tulis lagi kisah kita pada bintang.
[Chorus]
Tak akan kupinta restu bila itu menumpulkan cahaya kita.
Kita menapak dua langkah menuju masa depan yang kita reka sendiri.
Dalam dada ini, harapan keluarga dan cinta kita saling bertarung, kau dan aku.
Biar konspirasi hati melawan prasangka, kita memilih untuk tetap berdiri.
[Outro]
Dan bila akhirnya orang tua melihat cahaya kita, mungkin mereka mengerti.
Bahwa keberanian adalah memberi tempat pada cinta yang tulus, meski luka tak lekang.