[Verse 1]
Pernah ada cinta yang begitu sederhana
Dua hati bersatu tanpa memandang dunia
Namun waktu perlahan mengubah segalanya
Harta mulai menjadi ukuran cinta
Cinta pun kalah oleh keadaan
Yang miskin dianggap tak punya masa depan
Di antara cinta dan gemerlap dunia
Hati dipaksa memilih, lalu terluka
[Pre-Chorus / Spoken]
[Musik melambat... instrumen mulai menyayat.]
"Kau katakan kau miskin, saya pun miskin,
hidup tak akan beruntung jika tidak dengan uang.
Karena itu kau memilih kehidupan yang lebih senang,
mentereng, cukup uang,
berenang di dalam emas,
bersayap uang kertas..."
[Verse 2]
Waktu berlalu, keadaan berubah
Yang dulu dipandang sebelah mata
Kini berdiri dengan segala yang dipunya
Namun di dalam hati masih tersisa luka
Dulu tangan kosong, cinta dilepaskan
[Pre-Chorus 2]
Kini terdengar sebuah kata
Katanya tak membutuhkan harta
Katanya cinta adalah segalanya
Tapi mengapa dulu miskin jadi alasan?
[Interlude / Female Voice – sangat lembut]
[Musik melambat... piano dan biola menyayat.]
[Masuk suara wanita]
("Aku tak butuh uangmu,
berapapun jumlahnya...
Yang ku butuhkan hanya dekat denganmu,
Zainuddin...")
[Chorus 1]
Dulu miskin, cinta jadi tak berarti
Tak punya harta, tak layak dicintai
Kini kaya, cinta datang kembali
Katanya rindu, katanya tak butuh materi
Dulu tangan kosong kenapa dilepaskan
Kini tangan penuh kau genggam erat
Mengapa cinta baru terasa berharga
Saat dunia sudah berada di tangan?
[Chorus 2 – lebih tinggi & emosional]
Katanya hati tak mengejar kemewahan
Lalu mengapa miskin menjadi alasan?
Jika cinta memang tak mengenal harta
Mengapa dulu kau memilih meninggalkan?
Kini dunia tak mampu membeli kembali
Hati yang patah berkali-kali
[Bridge]
Bukan aku yang berubah menjadi batu
Bukan pula cinta yang telah berlalu
Hanya luka yang mengajariku
Tak semua yang pergi harus ditunggu
Kini kau datang membawa kata rindu
Saat aku tak lagi seperti dahulu
Maaf... bukan karena tak mencintai
Tapi hati telah belajar Terbiasa dari pedih.
Cinta tetaplah cinta .