[Intro]
Bayangan sunyi menari di kaca jendela
Langkah berat menapak pada sisa harapan
[Verse 1]
Aku berjalan di lorong sunyi, wajah pucat redup cahaya
Cerita lama bergaung di kepala, aku masih mencoba berdiri
Kekecewaan seperti hujan deras yang tak kunjung reda
Terluka di dalam, tapi terus kupasraikan luka perlahan
[Pre-Chorus]
Kau bilang hidup adil, aku tertawa pahit
Ironi menyusupi dada, namun aku masih menatap pagi
[Chorus]
Walau bangkit terasa berat, aku belum menyerah
Ada secercah harapan yang menyelinap di celah luka
Meski air mata menetes, langkahku tetap maju
Aku menata kembali mimpi, meski retak perlahan
[Verse 2]
Kehilangan datang tanpa undangan, membuat dada sesak
Aku mengumpulkan serpih-rata impian yang tercerai
Tertawa miris pada diri sendiri, mencoba memahami arti
Bahwa luka bisa jadi pelajaran untuk bangkit kembali
[Pre-Chorus]
Kau bilang hidup adil, aku tertawa pahit
Ironi menyusupi dada, namun aku masih menatap pagi
[Chorus]
Walau bangkit terasa berat, aku belum menyerah
Ada secercah harapan yang menyelinap di celah luka
Meski air mata menetes, langkahku tetap maju
Aku menata kembali mimpi, meski retak perlahan
[Bridge]
Ku rangkai harapan di ujung jemari yang rapuh
Tak ada kata selesai, hanya mulai lagi perlahan
[Chorus]
Walau bangkit terasa berat, aku belum menyerah
Ada secercah harapan yang menyelinap di celah luka
Meski air mata menetes, langkahku tetap maju
Aku menata kembali mimpi, meski retak perlahan
[Outro]
Di balik badai, aku menulis babak baru
Dengan luka yang jadi cahaya kecil untuk bertahan