(Verse 1)
Jejak kaki membawa langkahku kembali
Ke tanah tinggi, saksi awal mula kita mendaki
Aku berlari mengejar bayang yang kian menjauh
Sebab runtuhan memori ini membuat jiwaku rapuh
(Verse 2)
Aku tertegun di setiap sudut tempat bersandar
Mengeja kembali tawa saat topeng kuatmu pudar
Lalu keluh manjamu menjelma
Menjadi melodi paling indah yang pernah kurasa
(Pre-Chorus)
Sinar di matamu, paras sendu yang merayu
Rona kekanakan yang selalu meluluhkan hatiku
Aku tergelak kecil, meneriakkan namamu ke cakrawala
Mengadu pada angin, berharap rinduku bersuara
(Chorus)
Kuingat sepasang senyum yang abadi di balik kaca
Genggam jemari mungilmu, selembut sutra yang menyapa
Semuanya indah, namun takdir memilih jeda
Kisah kita karam tepat setelah puncak pertama
Kini aku terdampar di puncak tertinggi
Berlari sendiri, memeluk bising di kepala yang sunyi
(Verse 3)
Biar raga ini remuk dihantam lelah
Biar dahaga mencekik tanpa celah
Sakitnya tubuh tak sebanding dengan sebuah tanya
Mengapa romansa sependek ini menyisakan luka yang lama?
(Bridge)
Adakah jalan bagimu untuk berbalik arah?
Bisakah kita kembali mengukir cerita yang indah?
Sanggupkah sabarku menanti hadirmu kembali?
Sebab ada banyak tempat yang ingin kuperlihatkan nanti
Tempat-tempat Indah yang sempat kujajaki tanpa kau di sisiku
(Outro)
Kau jiwa yang santun, gadis termanis yang kupunya
Partner terbaikku di balik bidikan lensa
Rentang waktu kita singkat, namun membekas selamanya
Aku masih di sini, menjadi egois yang menantimu di puncak yang sama