[Verse 1]
Ksatria berdiri di pagar sunyi, pedang gemetar di tangan
Cinta bersemi di dada, meski hidupnya serba kekurangan
Bunga untuk putri dibawa lewat malam bersembunyi dalam harapan
Tapi api dendam Raja menyala, membakar harap yang menawan
[Chorus]
Ia tahu diri hanyalah penjaga gerbang miskin, tetap tabah berdiri
Cinta menguatkan langkah meski kata Raja menampar hati
Dendam menunggu waktu, sabar jadi pelindung nyalanya pagi
Cinta dan sabar menuntun pada jalan baru yang lebih berarti
[Verse 2]
Raja mencaci dengan kata-kata kasar yang kejam membelah senja
Ksatria menahan air mata, menahan amarah yang menggelora
Ia memilih diam, menjaga keluarga dari luka yang lebih dalam
Masa depan bukan untuk benci, melainkan untuk hidup yang lumrah
[Chorus]
Ia tahu diri hanyalah penjaga gerbang miskin, tetap tabah berdiri
Cinta menguatkan langkah meski kata Raja menampar hati
Dendam menunggu waktu, sabar jadi pelindung nyalanya pagi
Cinta dan sabar menuntun pada jalan baru yang lebih berarti
[Bridge]
Malam menjemput, keluarga berjalan perlahan menuju langit bebas
Langkah kecil menapak pada impian tempat yang lebih manusiawi
[Chorus]
Ia tahu diri hanyalah penjaga gerbang miskin, tetap tabah berdiri
Cinta menguatkan langkah meski kata Raja menampar hati
Dendam menunggu waktu, sabar jadi pelindung nyalanya pagi
Cinta dan sabar menuntun pada jalan baru yang lebih berarti
[Outro]
Mereka pergi dari sangkar kerajaan, mencari tempat berteduh dan layak hidup
Bergegas menuju harapan, meninggalkan luka, membawa cahaya ke depan